Perkembangan dunia digital sangatlah pesat. Banyak anak usia dini sudah mulai menggunakan perangkat digital sebagai media hiburan dan media belajar. Mengasah kecerdasan digital bagi si kecil yang berusia 5-6 tahun adalah pilihan yang baik bagi ayah dan bunda. Langkah ini sangat penting agar Si Kecil semakin kaya akan literasi digital dan mampu menggunakan perangkat digital sebagai sarana pengembangan diri ke arah yang positif. Yuk, lakukan beberapa tips berikut ini selama liburan Nataru dan akhir semester! Baca juga: Modul Ajar Topik : Aku Ingin Menjadi Animator / Tema Cita-Cita Anak Era Digital | RPPH PAUD - TK Usia 5-6 Tahun 1. Pendampingan dari ayah bunda Ayah Bunda perlu memiliki kontrol penuh pada perangkat digital yang digunakan Si Kecil agar bisa memberikan batasan, terutama dari konten-konten yang kurang ramah anak. 2. Pembatasan durasi penggunaan Pastikan si kecil tidak menggunakan perangkat digital lebih dari 1 jam setiap harinya. Ayah bunda juga bisa memberikan batasan agar si kecil tidak menggunakan perangkat digital setiap hari (ada jeda waktu 1 atau 2 hari dalam seminggu si kecil tidak menggunakan perangkat digital sama sekali). 3. Ajak bermain gim edukasi Gim adalah salah satu media hiburan menarik di era digital. Ayah Bunda bisa mengajak Si Kecil bermain aneka gim edukasi dari berbagai platform, salah satunya gim edukasi Marbel TK PAUD. Baca juga:Ajarkan Pesan Moral Positif untuk Anak Usia Dini dengan Riri Cerita Anak Interaktif 4. Ajak menonton film edukasi Ajak si kecil menonton aneka video yang bisa mendukung perkembangan karakter dan keterampilan mereka, misalnya tentang kerja sama, kejujuran, kemurahan hati, dan lainnya. RIRI: Cerita Anak Interaktif Dapat Membantu Perkembangan Kecerdasan dan Karakter Si Kecil 5. Membuat konten bersama Ajak si kecil membuat konten sederhana bersama ayah bunda, misalnya video story telling, penampilan bernyanyi, dan lainnya yang diperagakan oleh si kecil. 6. Menumbuhkan sopan santun meski di dunia digital Ajarkan kepada si kecil untuk mengucapkan “terima kasih”, “maaf”, dan kata-kata baik lainnya pada saat sedang berbicara di telepon, berbicara di depan kamera, dan kesempatan lain, terutama saat menggunakan perangkat digital. 7. Mencari objek gambar menarik untuk difoto Ajak si kecil jalan-jalan ke luar rumah untuk bisa menemukan objek menarik untuk didokumentasikan dalam bentuk foto atau video. 8. Mengajarkan pentingnya menjaga privasi Ayah bunda perlu mengajari si kecil untuk tidak membagikan nomor HP, foto pribadi, alamat rumah, dan hal-hal pribadi lainnya secara sembarangan. 9. Terlibat dalam kegiatan dengan perangkat digital di sekolah Saat guru memberikan tugas kepada si Kecil, terutama dengan memanfaatkan perangkat digital, ayah bunda perlu terlibat aktif dalam proses pembuatannya. 10. Gunakan perangkat digital sebagai sarana pengembangan hobi anak Ada banyak aplikasi yang berhubungan dengan hobi anak usia dini, misalnya menggambar, bernyanyi, menjelajah angkasa, dan lainnya. Ayah bunda bisa memberikan jenis aplikasi yang sesuai hobi dan minatnya. 11. Mengenalkan pentingnya keamanan siber Ajarkan kepada si kecil agar tidak mengeklik tautan secara sembarangan, tidak membagikan foto di media sosial tanpa izin orang tua, dan lainnya. 12. Menjadi teladan pengguna perangkat digital yang bijak Saat sedang berselancar di dunia maya di dekat si kecil, pastikan Ayah Bunda sedang mengonsumsi konten-konten positif dan inspiratif. Baca juga:Mendidik Anak Menjadi Bijaksana Menggunakan Internet 13. Membaca buku digital Ajak si kecil membaca buku digital bersama ayah bunda. 14. Mengajarkan coding yang mudah dan simpel Ayah bunda bisa mengajarkan konsep dasar pemrograman atau coding, misalnya SracthJr, Tynker, atau Lightbot. 15. Menjadwalkan hari tanpa layar Pastikan Si Kecil memiliki satu waktu satu hari penuh dalam seminggu untuk tidak menggunakan perangkat digital atau perangkat dengan layar. Dengan mengaplikasikan strategi-strategi di atas dalam kegiatan sehari-hari, semoga si kecil makin bijaksana dan cerdas dalam menggunakan perangkat digital dan mampu menggunakan perangkat digital sebagai media belajar yang inspiratif. Mari kita membangun karakter Si Kecil agar menjadi pribadi yang cerdas serta bijak dalam menggunakan perangkat digital selama masa liburan. Sumber Referensi:1. Freepik.com. (2023). Full shot kid with cute cat [1] 2. Vida.id. (2024) Digital literacy definition pillars benefits [2]
Setiap orang tua tentu ingin buah hatinya tumbuh menjadi anak yang baik atau berhati mulia. Namun, dalam perjalanannya sebagai orang tua, terkadang ia berbenturan dengan keinginan anak. Ada anak yang ingin membantu orang tuanya saat memasak atau bersih-bersih rumah, tapi dengan alasan sudah ada pembantu atau khawatir yang berlebihan, anak-anak tidak diperbolehkan untuk membantu. Padahal membantu orang tua adalah perilaku yang mulia, dan perlu dikembangkan dalam pribadi seorang anak. Bagaimana agar anak memiliki pribadi yang baik, namun tetap memperhatikan sisi kebahagiaan sang anak? 1. Tanamkan Kedisiplinan Sejak Dini Sikap yang semaunya sendiri, tidak tau aturan, dan tidak patuh pada nasihat orang tua adalah sifat-sifat yang tidak pernah diinginkan orang tua tumbuh di dalam diri anak-anaknya. Itulah pentingnya menanamkan sikap disiplin sejak dini. Kebiasaan disiplin bisa diterapkan dengan membiasakan anak bangun pagi, membereskan mainan setelah selesai menggunakan, istirahat yang cukup di siang hari, dan kebiasaan disiplin lainnya. Selain baik untuk membangun karakter anak agar tumbuh menjadi anak yang baik, perilaku disiplin juga sangat baik untuk kesehatan dan keamanan anak. 2. Mempersembahkan Waktu Istimewa bersama Anak Saatnya bekerja, sebaiknya orang tua bekerja dengan baik sesuai dengan tugas serta tanggung jawab yang diampunya. Namun, selain kesibukan bekerja , orang tua perlu mempersembahkan waktunya bersama anak. Jangan hanya meluangkan waktu, misalnya di sela-sela sibuk bekerja atau hanya di saat setelah lelah bekerja. Anak akan lebih menghargai orang tua yang menepati janjinya, khususnya saat melakukan aktivitas bersama anak. Jadi persembahkanlah waktu istimewa bersama anak, minimal 1 minggu sekali, untuk bisa liburan atau melakukan kegiatan bersama, tanpa diganggu dengan urusan pekerjaan yang begitu padat. 3. Tidak Menekan Anak Berprestasi Secara Akademis Saja Tujuan anak untuk memasuki dunia pendidikan adalah agar anak tumbuh menjadi anak yang pintar dan berkarakter. Selain itu, di sekolah anak juga bisa melatih ketrampilan atau bakat yang ia miliki. Beberapa kesalahan orang tua yang memiliki buah hati yang duduk di usia PAUD adalah menginginkannya bisa membaca, menulis dan berhitung. Sedangkan untuk orang tua yang memiliki buah hati yang duduk di usia SD ke atas adalah menginginkannya bisa meraih rangking sepuluh besar atau mencapai nilai kognitif yang baik. Padahal, tujuan anak belajar di sekolah tidak hanya agar anak tumbuh menjadi anak yang pintar, namun juga berhati mulia dan mampu mengembangkan bakat yang dimiliki. 4. Membiasakan Anak untuk Terbuka pada Orang Tua Keterbukaan anak kepada orang tuanya perlu dibiasakan sejak usia dini. Dengan keterbukaan, maka segala persoalan bisa terselesaikan dengan baik, mulai dari persoalan-persoalan yang kecil. Karena ada kemungkinan, sebuah persoalan besar berawal dari persoalan-persoalan kecil yang kurang terselesaikan dengan baik. Ajak anak untuk bercerita tentang kegiatan hariannya atau bertanya tentang aktivitas-aktivitas yang telah mereka lakukan dalam sehari. 5. Berkegiatan Bersama Banyak manfaat yang bisa ditemukan saat anak melakukan kegiatan bersama dengan orang tua. Selain untuk mendapatkan kesempatan mencurahkan kasih sayang orang tua kepada anak, manfaat dari berkegiatan bersama adalah untuk menjalin tali komunikasi antara orang tua dan anak. Banyak orang tua yang terlalu sibuk menjadi sangat asing bagi anaknya. Anak lebih nyaman bersama asisten rumah tangga atau kakek-neneknya, karena mereka lebih sering berinteraksi secara langsung bersama anak. Beberapa contoh kegiatan bersama adalah makan bersama, olah raga bersama, liburan bersama, atau nonton film di bioskop bersama.
Media pembelajaran adalah alat atau peraga yang biasa digunakan guru dalam proses belajar dan mengajar. Anak-anak usia dini, sebagai usia yang dianggap masih memiliki tingkat rasa penasaran yang tinggi sangat menikmati keberadaan media pembelajaran saat mereka belajar. Apalagi kalau media pembelajaran yang digunakan oleh gurunya tergolong unik dan menarik, pasti anak-anak menjadi lebih tertarik untuk memperhatikan. Mengapa keberadaan media pembelajaran sangat penting, terutama dalam proses pembelajaran anak-anak usia dini? Yuk kita simak ulasan selengkapnya! 1. Penarik Perhatian di Awal Pembelajaran Awal pembelajaran adalah momen penting bagi guru. Dalam momen ini, guru mendapatkan kesempatan untuk menarik perhatian anak-anak didiknya. Salah satu hal yang bisa menarik perhatian anak didik adalah keberadaan media pembelajaran. Anak-anak akan lebih mampu berkonsentrasi saat mereka melihat media pembelajaran yang ditunjukkan gurunya, sehingga mereka akan lebih mampu fokus di tahap pembelajaran selanjutnya. 2. Media Menyampaikan Materi Salah satu contoh media pembelajaran adalah "flash card". Di dalam "flash card" biasanya memuat aneka materi pelajaran. Anak-anak yang membutuhkan stimulasi tidak hanya dari suara (saat guru berceramah), akan menjadi lebih bisa memahami pelajaran saat mereka mendapatkan stimulasi secara visual. Anak-anak akan menjadi lebih memahami dan mengingat pelajaran yang baru saja dipelajari. 3. Lebih Efektif dan Efisien Bila guru menggunakan media "flash card" dalam pembelajaran, maka ia akan membutuhkan banyak kartu agar bisa mengajar dengan tema berbeda-beda. Namun, bila kita berbicara tentang media pembelajaran, tentu saja ada banyak, salah satunya adalah media pembelajaran dalam bentuk film. Ada banyak media film yang bisa kita temukan di platform penyedia video gratis. Kita tidak perlu membeli atau bahkan menggunakan "flash card" secara langsung agar anak bisa belajar dengan menggunakan media pembelajaran. Video-video di platform penyedia video bisa diakses secara langsung, bahkan bisa diunduh dan diputar ulang, agar bisa ditonton oleh anak-anak didik. 4. Pembelajaran yang Interaktif Saat guru menggunakan suatu benda sebagai media pembelajaran, ia bisa bertanya jawab dengan anak-anak didiknya. Anak-anak pun biasanya akan sangat antusias menanggapi dengan bertanya atau memberikan pendapatnya. Pembelajaran yang interaktif akan lebih menyenangkan, karena anak-anak tidak hanya diam dan mendengarkan, tapi bisa ikut berpartisipasi dalam pembelajaran, bahkan bisa memberikan penjelasan kepada teman-temannya. 5. Mengatasi Kebosanan Media pembelajaran bisa menjadi cara mengatasi kebosanan. Namun, bukan berarti penggunaan media pembelajaran perlu digunakan selama pembelajaran berlangsung. Gunakan media pembelajaran seefektif mungkin dan tidak dalam jangka waktu yang terlalu lama. Kita bisa memberikan variasi pembelajaran dengan berceramah, membuat karya, mengeksplorasi alam, dan lainnya.
Bayi berusia 6-12 bulan sudah mulai aktif bergerak secara aktif. Di usia ini, bayi juga sudah mulai merespon orang-orang di sekitar, misalnya saat dipanggil namanya sudah mulai bisa menoleh dan bisa tertawa saat diajak bercanda. Agar ia bisa tumbuh secara optimal, orang tua perlu memenuhi kebutuhan sang bayi, antara lain kebutuhan bermain, imunisasi, ASI, dan pemenuhan gizi yang baik. Selain baik untuk kesehatan dan pertumbuhan fisik sang bayi, pemenuhan kebutuhan bayi di atas juga akan sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan sang bayi. Stimulasi kegiatan yang berupa aktivitas fisik juga sangat penting untuk mengembangkan motorik halus dan motorik kasar sang buah hati. Berikut ini adalah beberapa aktivitas yang bisa menstimulasi kecerdasan anak berusia 6-12 bulan. 1. Beraktivitas di Luar Rumah Lingkungan sekitar atau di luar rumah bisa menjadi tempat belajar yang menyenangkan untuk sang buah hati. Ajaklah si kecil untuk jalan-jalan saat cuaca cerah untuk melihat pemandangan dan benda-benda di sekitar. Tunjuklah benda-benda yang sekiranya menarik untuk si kecil, misalnya matahari, awan, batu, pohon, mobil dan lainnya. Ketrampilan si kecil dalam menggerakkan badan akan terstimulasi. Panca indera bayi juga bisa berkembang, saat ia melihat dan menyentuh benda tertentu atau saat mendengar suara hewan serta benda lainnya. Si kecil akan semakin kaya akan kosakata baru, sehingga pengetahuannya pun akan semakin luas. 2. Mendongeng untuk Si Kecil Aktivitas mendongeng dipercaya mengandung banyak manfaat untuk si kecil. Di dalam sebuah buku dongeng mengandung aneka pengetahuan, baik mengenal benda, suara, sifat, dan lainnya. Akan lebih baik, bila buku dongeng yang dibacakan memiliki gambar yang menarik, sehingga Anda bisa menunjuk gambar benda kepada si kecil, dan menyebutkan nama benda tersebut. Bila tokoh dalam cerita itu adalah seekor hewan, Anda bisa menirukan suara hewan tersebut. Selain menambah kosakata, aktivitas mendongeng juga bisa mempererat hubungan emosional antara orang tua dan buah hatinya. Pesan moral dalam dongeng bisa menjadi pelajaran berharga untuk membangun karakter anak. Di era digital, orang tua juga bisa memberikan dongeng kepada anak dalam bentuk animasi. Temukan koleksi dongeng menarik di kanal Youtube "Riri, Cerita Anak Interaktif" Ada juga koleksi dongeng yang bernuansa Islami di kanal Youtube "Kabi, Kisah Nabi". 3. Manfaatkan Peralatan yang Ada di Rumah Botol bekas, kaleng susu bekas, mangkuk, gelas plastik, sendok, dan peralatan lainnya bisa menjadi alat peraga belajar yang menarik bagi sang buah hati. Pastikan peralatan yang digunakan bukanlah peralatan yang berbahaya (tajam, runcing) atau dari bahan yang mudah pecah. Biarkan anak bereksplorasi dengan meraba, menggelindingkan, menepuk, dan lainnya. Dengan memainkan peralatan tersebut, anak juga melatih panca inderanya serta melatih motoriknya. Anak semakin mengenenal tekstur benda, bentuk benda, bahan pembuat suatu benda, bunyi, dan lainnya. 4. Aktivitas Menggunakan Benda atau Alat Bermain Orang tua bisa melatih aneka aktivitas fisik dengan benda-benda di sekitar. Salah satu contoh benda adalah kursi. Kursi bisa digunakan untuk melatih anak berdiri dan berjalan. Biarkan anak bertopang pada kursi, sambil ia berdiri. Tentu saja harus dengan pendampingan orang tua ya. Benda lain yang bisa digunakan adalah bola. Bola bisa digunakan untuk melakukan lempar tangkap, mengejar bola, memasukkan bola ke dalam ember, dan lainnya. Ada juga beberapa aneka alat peraga lainnya yang sangat bermanfaat untuk melatih motorik anak dengan benda berukuran besar, misalnya permainan bowling, permainan matras (gross motorik), menyusun balok besar, dan lainnya. Bermain dengan benda berukuran besar bisa melatih motorik kasar dan kekuatan tulang anak.
Anak berusia 0-6 bulan adalah awal dari si kecil merasakan kehidupan dan menghirup udara segar di luar perut sang Ibu. Karena masih dalam tahap penyesuaian, maka apa pun "treatment" yang diberikan orang tua kepada anak akan sangat mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya, terutama perkembangan kecerdasan anak. Tidak ada salahnya, bila Anda, orang tua atau pun calon orang tua, untuk belajar dari artikel ini agar semakin memahami cara mengasuh anak usia 0-6 bulan. 1. Mengajak Bernyanyi Bersama dan Berkomunikasi Walau pun anak belum cakap dalam berbicara, apalagi bernyanyi, namun stimulasi pengenalan kosa kata di 0-6 bulan sangatlah penting. Dengan bernyanyi dan berkomunikasi, anak akan banyak mengenal kosa kata baru. Meski ia belum paham maknanya, namun memori otaknya akan secara otomatis mengenal kosa kata baru tersebut. Salah satu kata pertama yang biasa dipahami anak adalah kata, "Mama" atau "Papa". Bila Anda seorang Ibu, tunjuklah diri Anda sambil bilang, "Mama" kepada sang buah hati. Lakukan berulang-ulang agar ia paham bahwa sosok yang selalu ada bersama dia tersebut memiliki panggilan "Mama". Nada berbicara dan nada lagu saat bernyanyi juga sangat bermanfaat sebagai pengenalan emosi. Agar anak selalu memiliki emosi yang positif, nyanyikanlah lagu-lagu anak dengan suara lembut. Bila Anda mengajak si kecil berbicara, berbicaralah dengan suara lembut. Kebiasaan ini bisa membuat si kecil memiliki pribadi yang positif, penuh kasih, dan penyabar. Yang pasti perubahan nada bicara yang ia dengan akan sangat mempengaruhi emosinya. Jadi jangan sekali menunjukkan kemarahan atau berbicara dengan nada tinggi. Karena bisa mempengaruhi emosi anak ke arah negatif. 2. Mengenalkan Aneka Benda Agar si kecil mulai mengenal aneka benda di sekitar, orang tua bisa menunjukkan aneka benda dan menyebutkan nama benda tersebut. Tidak perlu banyak-banyak, mungkin hanya 1 sampai 3 benda terlebih dahulu. Karena dengan 3 benda saja, Anda bisa mengenalkan aneka kosa kata lainnya dengan menyebutkan warna, bentuk, ukuran dan lainnya. Anda juga bisa menyebutkan gerakan yang Anda lakukan pada benda tersebut, misalnya memutar, jatuh, naik, turun, dan lainnya. 3. Mengenalkan Bagian Tubuh Hal paling sederhana untuk bisa mengenalkan bagian tubuh kepada si kecil adalah dengan menghadapkannya di depan cermin. Biarkan si kecil mengenal bagian-bagian tubuhnya dan seperti apa bentuk wajahnya. Setelah itu, Anda bisa menyentuh hidung dan menyebutkan kata "hidung". Lanjutkan pada bagian-bagian tubuh lainnya agar ia semakin mengenal bagian-bagian tubuhnya sendiri. 4. Gerakan Tubuh Sederhana Contoh gerakan tubuh yang paling disukai anak-anak adalah bertepuk tangan. Karena dengan bertepuk tangan, anak bisa memahami bahwa bagian tubuhnya bisa mengeluarkan bunyi. Selain itu, kita bisa mengenalkan gerakan tubuh lainnya misalnya mengambil, membuka menutup tangan, melompat, melambaikan tangan, dan gerakan tubuh sederhana. Di awal-awal, Anda bisa mengajarkan kepada si kecil gerakan tubuh yang sekiranya bisa ia lakukan, misalnya menyentuh, bertepuk, memutar, dan lainnya. Saat si kecil melakukan gerakan-gerakan tubuh sederhana tersebut, ia juga telah melatih motorik halus dan motorik kasarnya. Selain melatih konsentrasi dan menambah pengetahuan, aktivitas ini bisa membuat si kecil semakin berkembang dalam hal ketrampilan berkomunikasi. 5. Bergerak Sambil Mendengarkan Musik Ajaklah si kecil mendengarkan dan lakukan gerakan sederhana di depan si kecil, misalnya gerakan kepala kiri-kanan, bertepuk ganya, buka tutup jari atau goyangkan badan kiri dan kanan. Biasanya anak akan berusaha untuk menirukan gerakan yang dilakukan orang tua. Dengan melakukan gerakan sederhana tersebut, anak melatih motoriknya, melatih fokus, mengenal emosi (gembira dan semangat), dan melatih indera pendengaran serta penglihatan anak. 6. Pijatan Lembut Karena bagian tubuh, terutama syaraf dan tulang si kecil masih tergolong lunak, maka lakukanlah pijatan dengan lembut dan penuh kasih sayang. Lakukan pijatan lembut pada bagian dada, punggung, alas kaki, leher, dan bagian tubuh lainnya. Kegiatan ini bisa menstimulasi si kecil agar semakin mengenal dan merasakan indera perabanya. Selain itu, dengan pijatan yang lembut dan dilakukan sambil berbicara atau bernyanyi juga bisa meningkatkan hubungan emosional antara anak dan orang tua. Anak akan merasakan kenyamanan dan kedamaian saat bersama orang tuanya.
Wabah Covid-19 membuat semua sekolah perlu waspada. Karena hingga saat ini wabah virus ini belum mereda juga, bahkan kadang mengalami peningkatan. Mau tidak mau, pembelajaran online masih menjadi solusi terbaik, karena pihak sekolah tidak mau kecolongan. Ada 1 siswa saja yang terinfeksi, imbasnya adalah tertularnya siswa atau guru dalam satu sekolah. Selain itu, nama baik sekolah pun menjadi taruhan dari setiap kebijakan yang diambil sekolah. Namun, tentu saja pembelajaran online juga memberikan dampak yang tidak ringan bagi siswa, yaitu kemungkinan terjadinya "learning loss" pada siswa. Pihak sekolah tentu memiliki cara tersendiri untuk mengatasi hal ini, namun tentu saja dukungan orang tua juga sangat menentukan perkembangan sang buah hati. 1. Mengajarkan Kegiatan Kreatif di Rumah Kegiatan kreatif ini bisa berupa kerajinan tangan, menggambar, menulis cerita, atau mengajak anak memasak bersama. Hal ini sangat penting agar imajinasi anak berkembang dengan baik, tidak hanya saat bermain game. Saat bermain game, anak biasanya melakukannya secara mandiri. Namun saat melakukan kegiatan kreatif, orang tua bisa menemani, mengajak anak berkomunikasi, dan membimbingnya agar bisa melakukannya dengan gembira, penuh semangat, dan tetap fokus. 2. Dampingi dan Amati saat Belajar Online Saat belajar online, pastikan anak nyaman, bersemangat, dan bisa aktif dalam pembelajaran. Tanda-tanda anak mulai bosan adalah anak belajar online sambil melakukan sesuatu yang lain (sibuk sendiri), tidak mau bertanya saat tidak paham, dan tidak mau merespon penjelasan guru secara aktif. Bila anak sudah mulai merasa bosan, komunikasikan dengan pihak guru agar bisa berdiskusi dan menemukan variasi belajar yang lebih seru dan menantang, walau pun secara online. 3. Amati Aneka Perkembangan Anak Tujuan anak bersekolah adalah untuk belajar, agar ia berkembang dalam ha kecerdasan, ketrampilan, dan karakternya. Pastikan anak mengalami perkembangan yang lebih baik, misalnya dari tingkat pemahamannya pada suatu materi pelajaran, kemandirian, karakter, dan aneka ketrampilan lainnya. Bila ada suatu hal yang sulit berkembang, Anda bisa mengomunikasikannya kepada guru. Walau pun akar masalahnya bisa berasal dari rumah atau sekolah, namun solusi dan treatment-nya bisa ditemukan secara bersama antara guru dan orang tua. Perkembangan karakter anak tentu menjadi konsern setiap orang tua. Selain bisa belajar di dunia nyata, kebiasaan baik juga bisa dipelajari melalui permainan di dunia maya. Salah satu game yang menarik dan sangat direkomendasikan saat ini adalah Marbel Kebiasaan Baik dan Marbel Kebiasaan Baru (Sesuai Protokol Kesehatan). 4. Orang Tua yang Aktif Belajar dan Mengajar Saat pembelajaran online, tentu orang tua tidak bisa mengontrol 100 persen. Pasti ada saat di mana anak belajar sendiri, entah karena orang tua sedang melakukan suatu kegiatan lainnya, sedang bekerja, atau hanya di bawah pengawasan guru pembimbing dan asisten rumah tangga. Orang tua perlu aktif bertanya tentang materi yang baru saja dipelajari sang anak. Lalu mencari sumber-sumber dari buku atau internet, untuk bisa diajarkan kepada sang buah hati. Saat mengajari anak pun tidak harus ada dalam suasana formal, bisa saat ia bermain, makan bersama, atau saat jalan-jalan. 5. Belajar Sambil Bermain di Rumah dengan Suasana Menyenangkan Selain belajar dengan pendampingan orang tua, anak juga bisa belajar secara mandiri dengan alat-alat peraga edukasi atau game edukasi.Contoh-contoh alat peraga edukasi antara lain:1. Flash Card dan Poster Edukasi yang diproduksi dan tersedia di marbeljunior.com.2. Aplikasi game edukasi online produksi Educa Studio, yang tersedia di Google Playstore. Atau Anda bisa belajar dan bermain bersama di rumah, dengan mainan yang tersedia di rumah,sembari memberikan beberapa pertanyaan dan perintah kepada si kecil, misalnya:~ Apa warna mainan ini?~ Bagaimana bentuk mainan ini?~ Ayo berlari cepat!~ Lihat, ada pesawat terbang dengan lambat, lalu semakin cepat!Agar anak semakin hebat dalam menguasai aneka pengetahuan dasar seperti mengenal angka, warna, bentuk, hewan, dan lainnya, orang tua bisa mengajak anak belajar dan bermain dengan aplikasi gratis Belajar TK PAUD bersama Marbel. Anak-anak pasti suka dan menjadi semakin pintar.